Membaca teks “Ditukar dengan Apa?”

Pada pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas IV sekolah dasar BAB 5 Bertukar atau Membayar terdapat kegiatan membaca “Ditukar dengan Apa?”. Tujuan kegiatan ini adalah melalui kegiatan membaca cerita “Ditukar dengan Apa?” peserta didik mampu mengidentifikasi permasalahan tokoh dengan baik.

Pada kegiatan ini guru bisa mengawali pembelajaran dengan membacakan nyaring teks “Ditukar dengan Apa?” dengan intonasi yang sesuai dengan karakter hewan dalam cerita. Minta peserta didik mengamati gambar dan menemukan ekspresi tokoh masing-masing, adakah yang terlihat senang atau tidak senang. Beri peluang kepada peserta didik untuk berpendapat dan menyimpulkan sendiri sebelum guru memberi penjelasan tentang istilah “barter”

1. Membaca Cerita dan Memahami Bacaan

Bacalah cerita “Ditukar dengan Apa?” secara bergantian dengan teman di sebelah kalian! Setelah itu, jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawahnya.

Ditukar dengan Apa?

Seperti biasa, hewan-hewan di Hutan Kelayau saling barter atau bertukar barang di pasar. Mereka menukarkan hasil kebun atau barang yang mereka punya dengan barang yang mereka inginkan. Ka Kancil membawa jagung dari kebunnya. Ia ingin menukar jagung itu dengan kangkung sebab ia ingin makan kangkung siang ini.

Sementara itu, Kak Bebek baru saja memanen kangkungnya. Jumlahnya terlalu banyak untuk dimakan sendiri. Dak Bebek membawa kangkung ke pasar dan berharap bisa menukarkan dengan padi atau jagung. Ka Kancil senang bertemu Dak Bebek. Mereka berdua sama-sama senang karena mendapatkan barang yang mereka inginkan.

Namun, tidak semua hewan dapat bertukar semudah itu. Ela Pelatuk menginginkan bunga untuk menghias rumahnya. Dia sudah membuat sendok kayu sebagai penukar. Namun, Ke Kelinci yang memiliki kebun bunga tidak membutuhkan sendok kayu. Ia sudah punya beberapa sendok hasil bertukar dengan hewan lain.

Hen Ayam tertarik ingin memiliki vas, tetapi Ela tidak memerlukan ubi yang ditawarkan Hen. Ti Tikus perlu ubi, tetapi Hen tidak mau jamur dari Ti Tikus. Ti lalu menawarkan jamurnya ke hewan lain.

Begitulah, hewan-hewan itu sering menemukan masalah saat menukar barang mereka. Sering perlu waktu lama untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan, atau malah mereka tidak mendapatkannya sama sekali. Lagi pula, sayur atau buah yang terus berpindah-pindah, lama-lama tidak enak lagi.

Ah, memusingkan sekali pertukaran ini. Mungkin akan lebih mudah kalau ada satu barang yang dapat mewakili semua barang lainnya. Salah satu hewan mengusulkan batu-batu bulat yang cantik. Hewan-hewan setuju karena mereka tidak perlu lagi bertukar barang. Batu-batu bulat akan menjadi alat pembayaran. Mereka menyebutnya uang.

Akan tetapi, batu-batu itu tidak sama besar, tidak sama cantik, dan tidak sama warnanya. Ti Tikus juga berkeberatan menggunakan batu. Batu-batu itu terlalu berat baginya.

Ela Pelatuk kemudian mengusulkan untuk menggunakan alat pembayaran dari kayu. Ela bisa membuatnya berukuran sama. Kepala Desa Beru senang sekali dengan usulan Ela. Ela ditunjuk sebagai penanggung jawab pembuatan uang. Ela membuat uang kayu itu berbentuk bundar supaya lebih nyaman untuk dipegang. Sa Angsa menawarkan diri untuk menggambarinya. Kayu bundar bergambar wortel digunakan sebagai pembayar wortel, uang kayu bergambar tomat sebagai pembayar tomat.

Apakah masalah hewan-hewan itu sudah teratasi? Belum semua. Sistem baru ini masih merepotkan. Ti Tikus menginginkan kacang, tetapi dia hanya punya uang bergambar pisang. Ia harus berusaha menukarkan uangpisangnya dengan uang-kacang. Lalu, Ka Kancil punya satu uang bergambar wortel yang bisa buat membayar empat wortel, tetapi dia hanya memerlukan dua wortel. Andai saja uang kayu ini boleh dibagi dua ….

Ya, itu jawabnya! Ela akan membuat uang kayu dengan ukuran berbeda. Sa Angsa juga muncul dengan ide cemerlang. Ia tidak lagi akan membuat gambar tomat, wortel, atau lainnya. Lebih baik ia menuliskan angka pada uang tersebut: 1, 2, 4, atau 5.

Setelah mereka berdiskusi, diputuskan bahwa Ela Pelatuk akan membuat uang kayu dengan 3 ukuran berbeda: kecil, sedang, dan besar. Lalu, Sa Angsa akan menuliskan angka 1, 2, dan 5. Semua senang. Tidak apa kalau Ke Kelinci punya uang besar berangka 5 untuk membayar dua wortel Ka Kancil. Ka Kancil akan memberinya dua wortel serta satu uang kecil berangka 1 dan satu uang sedang berangka 2.

Walaupun uang kayu tidak seawet uang batu, Ela berhasil mengatasinya dengan hanya memakai kayu dari pohon tertentu yang lebih kuat. Beru juga menetapkan bahwa Kepala Desa akan mengatur penggantian uang kayu yang rusak.

Apakah kalian menyukai cerita “Ditukar dengan Apa?” tersebut? Bagian mana yang paling kalian sukai? Dapatkah kalian mengingat dan memahami jalan ceritanya? Apa saja peristiwa yang dialami para tokohnya?

Untuk memeriksanya, jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini! Kalian boleh mengerjakannya berdua dengan teman.

1. Pada awalnya, bagaimana cara yang digunakan hewan-hewan di Hutan Kelayau untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan?

Hewan-hewan di Hutan Kelayau saling barter atau bertukar barang di pasar.

2. Mengapa pembayaran dengan batu tidak jadi mereka lakukan?

Batu-batu itu tidak sama besar, tidak sama cantik, tidak sama warnanya, dan terlalu berat untuk tikus.

3. Mengapa Sa Angsa tidak membuat uang kayu yang bertuliskan angka 3 atau 4?

Karena uang kayu angka 3 atau 4 sudah dibuatkan oleh Ela.

4. Pernahkah kalian melakukan barter atau melihat orang melakukan barter? Jika ya, barang apa yang saling dipertukarkan?

Saya pernah melihat seseorang melakukan barter di pasar misalnya pisang ditukar dengan kelapa.

5. Apakah menggunakan uang kayu telah menyelesaikan persoalan di Hutan Kelayau?Jelaskan jawaban kalian!

Penggunaan uang kayu telah menyelesaikan persoalan di Hutan Kelayau. Walaupun uang kayu tidak seawet uang batu, Ela berhasil mengatasinya dengan hanya memakai kayu dari pohon tertentu yang lebih kuat.

Ingat, carilah arti kata-kata yang belum kalian pahami di KBBI. Catat menjadi Kamus Kartu kalian.

KBBI

  1. barter: n perdagangan dengan saling bertukar barang
  2. pelatuk: n burung pemakan serangga yang membuat sarangnya pada kayu yang dilubanginya (dengan jalan mematukinya); belatuk (picidae)
  3. cemerlang: a ki bagus (baik) sekali (tentang hasil suatu pekerjaan dan
  4. sebagainya); a cerdas (tentang otak)

2. Tujuan Penulis

Cermati kembali cerita “Ditukar dengan Apa?”.

1. Menurut kalian, apa tujuan penulis membuat cerita tersebut? Mana jawaban yang menurut kalian benar?

  • a. Penulis ingin menceritakan kejadian ajaib yang dilihatnya.
  • b. Penulis ingin menyampaikan bahwa hewan-hewan juga memakai uang.
  • c. Penulis ingin menggambarkan kejadian yang dialami manusia terkait asal mula munculnya uang dengan membuat perumpamaan pada hewan.
  • d. Atau kalian punya pendapat lain? Kemukakan pendapat kalian.

c. Penulis ingin menggambarkan kejadian yang dialami manusia terkait asal mula munculnya uang dengan membuat perumpamaan pada hewan.

2. Menurut kalian, mengapa penulis memilih tokoh hewan dalam cerita ini?

Agar lebih menarik dan lebih mudah dipahami.

3. Mencari Informasi dari Berbagai Sumber

1. Setelah membaca cerita “Ditukar dengan Apa?”, carilah informasi tentang sejarah munculnya uang dalam kehidupan manusia. Kalian dapat mencarinya di ensiklopedia di perpustakaan atau lewat internet.

2. Kalian masih ingat ADiKSiMBa yang dibahas di Bab IV? ADiKSiMBa adalah singkatan dari “Apa, Di mana, Kapan, Siapa, Mengapa, Bagaimana”.

Carilah informasi yang dapat menjawab kata-kata tanya tersebut terkait sejarah uang. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dapat

kalian jadikan contoh untuk memandu dalam mencari informasi.

a. Kapankah manusia mulai mengenal konsep uang?

b. Bagaimanakah bentuk uang pada masa itu?

c. Mengapa manusia menciptakan uang?

d. Bagaimana cara manusia memenuhi kebutuhan saat belum ada konsep uang?

3. Buatlah rangkuman dari informasi yang kalian baca. Membuat rangkuman berarti menuliskan hal-hal penting dari informasi tersebut. Perhatikan bagan di bawah ini untuk membantu kalian dalam membuat rangkuman!

4. Jangan lupa tuliskan juga sumber informasi kalian!

Sejarah Uang di Nusantara

a. Kapankah manusia mulai mengenal konsep uang?

Manusia sebagai makhluk hidup, memiliki berbagai kebutuhan sebagai penunjang hidup. Manusia mulai mengenal konsep uang sejak orang-orang menemukan kesulitan dalam sistem barter dan kebutuhan semakin kompleks.

b. Bagaimana cara manusia memenuhi kebutuhan saat belum ada konsep uang?

Jauh sebelum mengenal uang, manusia melakukan barter atau pertukaran barang atau jasa untuk barang dan jasa yang diinginka. Namun tak mudah untuk meraih kesepakatan mengenai nilai pertukarannya. Timbulah kebutuhan akan adanya suatu alat penukar yang disebut dengan uang.

c. Bagaimanakah bentuk uang pada masa itu?

Selama berabad-abad berbagai benda dipakai sebagai alat pertukaran atau alat pembayaran seperti kulit kerang, batu permata, gading, telur, garam, beras, binatang ternak, atau benda-benda lainnya. Dalam perkembangan selanjutnya masyarakat menggunakan benda-benda seperti logam dan kertas sebagai uang.

d. Mengapa manusia menciptakan uang?

Manusia menciptakan uang karena alat tukar seperti kulit kerang, batu permata, gading, telur, garam, beras, binatang ternak, atau benda-benda lainnya memliki kelemahan yaitu uang barang sulit dibawa kemana-mana, tak bisa dipecah sebagai kembalian, apabila dibagi, akan terdapat pengurangan nilai, dan uang barang tak bisa bertahan lama.

Sumber :https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/sejarah-uang-di-nusantara/,https://finance.detik.com/moneter/d-5070290/sejarah-uang-dalam-kehidupan-manusia-dari-barter-hingga-bitcoin

Demikian pembahasan mengenai Membaca teks “Ditukar dengan Apa?”. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber : Buku Bahasa Indonesia Kelas IV, Kemendikbud

Leave a Comment